Rabu, 19 September 2007

JANGAN SAMPAI NIKMAT MENJADI NIQMAT


Banyak sekali nikmat yang telah Allah karuniakan kepada kita. Sebelum kita lahir, kita pun telah diberi nikmat dalam rahim ibu kita. Begitu lahir nikmat-nikmat pun bertambah. Sungguh banyak nikmat tersebut, sehingga kita tiada akan mampu menghitungnya.

Namun bisa jadi nikmat tak selamanya terasa nikmat. Nikmat malah bisa menjadi niqmah, yaitu balasan dari Allah berupa siksaan. Harta yang melimpah tidak menjadikan pemiliknya merasa tenteram, malahan hatinya selalu dirundung kekhawatiran jika harta itu sewaktu-waktu melayang. Jabatan dan kekuasaan membuat pemiliknya dibenci para bawahan. Tentu, kita tak ingin hal ini terjadi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja berlindung dari nikmat yang menjadi siksa ini. Dalam sebuah riwayat, beliau berdoa yang artinya, “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kehilangan nikmat dari-Mu, dan dari siksaan-Mu yang mendadak, dari menurunnya kesehatan yang Engkau berikan, dan dari kemurkaan-Mu.” (Riwayat Muslim)

Inti Masalah

Sebenarnya inti perubahan yang tak kita inginkan ini adalah terletak pada masalah bagaimana sikap kita terhadap nikmat dari Allah tersebut. Jika kita bersyukur dengan benar kepada Allah atas nikmat-nikmat dari-Nya, niscaya nikmat tetap akan menjadi nikmat. Kebalikannya, sikap tidak bersyukurlah yang menjadi sebab nikmat menjadi siksa.

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Jika Allah memberikan kenikmatan kepada suatu kaum, dan Allah lalu meminta kepada mereka agar bersyukur. Maka jika mereka bersyukur, Allah akan menambahkan kenikmatan kepada mereka. Tetapi jika mereka kufur, maka Allah berkuasa untuk menyiksa mereka dengan mengubah nikmat-Nya atas mereka menjadi siksa.” (Riwayat Abu Dunya dalam kitab Asy-Syukr)

Hasan Al-Bashri berkata, “Sesungguhnya Allah pasti memberikan kemurahan nikmat-Nya menurut kehendak-Nya. Maka jika mereka tidak bersyukur kepada-Nya, tentu Allah akan mengubahnya menjadi siksaan.” (Kitab Asy-Syukr)

Ibnu Hazm berkata, “Setiap kenikmatan yang tidak menjadikan diri seseorang tidak dekat kepada Allah, maka akan menjadi siksaan.” (Kitab Asy-Syukr)

Bentuk tidak syukur yang menjadi penyebab berubahnya nikmat menjadi siksa ada beberapa macam. Mereka itu adalah:

Maksiat

Maksiat atau perbuatan dosa sebenarnya adalah perbuatan membalas nikmat Allah dengan hal-hal yang dimurkai-Nya. Contoh sederhana, nikmat penglihatan digunakan untuk memandang gambar-gambar wanita telanjang. Tentu hal seperti ini adalah membalas nikmat Allah dengan kemaksiatan.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.”(An-Nisa: 79)

Nisbah kepada Selain Allah

Hilangnya kenikmatan juga dapat terjadi juga bila kita menisbatkan nikmat itu kepada selain Allah. Hal inilah yang terjadi para Qarun. Ketika ia mengatakan bahwa nikmat yang diberikan Allah tersebut adalah hasil ilmunya, maka Allah membinasakannya. Ketika ia berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.”, maka Allah membenamkannya dan seluruh hartanya ke dalam bumi.

Menisbahkan nikmat kepada selain Allah adalah haram. Hal ini merupakan perbuatan orang kafir dan ingkar.

Kita sering mendengar ucapan-ucapan bermakna demikian di masyarakat. Ucapan menisbahkan anugerah nikmat kepada selain Allah itu seperti, “Harta benda ini kudapat karena ketrampilanku berdagang.”, “Seandainya bukan karena kepandaianku tentu proyek ini gagal.”, “Kita menang karena tentara kita kuat dan terlatih.”

Mereka lupa bahwa sesungguhnya hanya Rabb merekalah yang memberi kenikmatan, keberuntungan, kemenangan, kesejahteraan dan keselamatan. Mereka mengira bahwa semua karunia itu adalah karena hasil jerih payah, kekuatan, dan kepandaian mereka.

Namun, perlu diperhatikan, tidak ada salahnya kita mensyukuri dan berterima kasih kepada orang yang menolong kita atau kepada orang yang berbuat baik kepada kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang kita untuk berterima kasih, mendoakan dan berlaku baik kepada orang lain yang selalu berbuat baik kepada kita. Sabdanya, “Tidaklah dikatakan bersyukur kepada Allah bagi orang yang tidak bersyukur kepada manusia.” (Riwayat Ahmad)

Sombong

Hal lain yang dapat menjadi sebab berubahnya nikmat menjadi siksa adalah berlaku sombong. Sombong di sini adalah merasa diri lebih mampu dari orang lain. Akibatnya, ia mencela orang lain, dan membanggakan hal-hal yang dimilikinya, baik berupa harta benda, ilmu, atau pun kedudukan.

Allah berfirman yang artinya, “Kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.” (Al-Humazah: 1-3)

Tidak Menunaikan Hak Allah dari Nikmat itu

Berubahnya nikmat menjadi siksa juga bisa disebabkan karena kita tidak menunaikan hak Allah dalam nikmat itu. Misalnya, ketika kita mempunyai ilmu yang bermanfaat, maka menyimpannya sendiri, dan tak mau mengajarkannya kepada orang lain. Saat mempunyai harta, kita tidak mau menginfakkannya kepada orang lain, padahal dalam harta itu ada hak-hak untuk orang lain.

“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (Al-Ma’arij: 24-25)

Karena itu terlantun doa malaikat yang mereka ucapkan setiap hari,

“Ya Allah, karuniakanlah pada orang yang berinfak pengganti atas apa yang dia infakkan. Ya Allah, timpakan kebinasaan-Mu kepada mereka yang mempertahankan hartanya tanpa menafkahkannya di jalan-Mu.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Itulah sebab-sebab berubahnya nikmat menjadi niqmat. Menjadi kewajiban kita untuk menjauhi hal-hal yang demikian. Semoga Allah memudahkan kita untuk bersyukur atas nikmat-nikmatNya.

BERLINDUNG DARI GODAAN SETAN


Mewaspadai bisikan nafsu merupakan hal yang penting. Hal ini merupakan salah satu cara untuk membersihkan jiwa dari keburukan-keburukan. Namun mewaspadainya tanpa mewaspadai bisikan yang lain adalah merupakan jalan yang timpang. Sebagian kaum sufi berada pada jalan yang timpang ini. Mereka begitu memperhatikan aib jiwa dan keburukan nafsu, namun lupa memperhatikan bisikan yang lain. Bisikan yang lain itu adalah godaan setan.

Ternyata masalah setan lebih banyak disebut dalam Al-Quran dan Al-Hadits daripada masalah nafsu. Dalam Al-Quran, nafsu madzmumah (yang buruk dan jahat) disebutkan dalam surah Yusuf ayat 53 dan surat An-Nazi’at ayat 40. Adapun nafsu lawwamah (yang suka mencela) disebut dalam surat Al-Qiyamah ayat 2. Sedangkan masalah setan lebih banyak disebutkan. Hal ini disebabkan kejahatan dan rusaknya nafsu sebenarnya dikarenakan godaan setan. Sehingga, godaan setan itulah yang menjadi poros dan sumber kejahatan.

Allah memerintahkan hamba-Nya agar berlindung dari setan saat membaca Al-Quran dan lainnya. Sebaliknya, Allah tidak memerintahkan, meski dalam satu ayat, agar kita berlindung dari nafsu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghimpun permohonan perlindungan dari nafsu dan setan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, “Bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Wahai Rasulullah! Ajarilah aku sesuatu yang harus kukatakan jika aku berada pada pagi dan petang hari.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, Ya Allah yang Maha Mengetahui yang gaib dan nyata, pencipta segenap langit dan bumi, Tuhan dan pemilik sesuatu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan nafsuku dan dari kejatahan setan beserta sekutunya, dan dari melakukan kejahatan terhadap nafsuku atau aku melakukannya terhadap seorang muslim.’...” (Riwayat At-Tirmidzi, Abu Daud, dan Ad-Darimi)

Makna Isti’adzah

Memohon perlindungan kepada Allah atau isti’adzah mempunyai makna meminta penjagaan-Nya serta bersandar dan mempercayakan kepada-Nya.

Lafal isti’adzah disebut sebagai ta’awwudz. Lafal ta’awwudz ada beberapa macam sebagaimana yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca ta’awwudz dengan lafal, “A’udzu billahi minasy syaiythaanirrajiim, min hamazihi, wa nafkhihi, wa naftsihi.”

Dengan arti, “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari semburannya (yang menyebabkan gila), dari kesombongannya, dan dari hembusannya (yang menyebabkan kerusakan akhlaq).” (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, Ad-Daraquthni, Hakim dan disahkan olehnya serta oleh ibban dan Adz-Dzahabi)

Pernah juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dengan lafal, “A’udzu billahis samii-il a’liimi, minasy syaiythaanirrajiim.”

Dengan arti, “Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk.” (Riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan sanad hasan)

Isti’adzah Sebelum Membaca Al-Quran

Salah satu hal yang diperintahkan Allah agar kita meminta perlindungan kepada-Nya adalah saat kita membaca Al-Quran.

Allah ta’ala berfirman,

“Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98)

Mengapa membaca isti’adzah sebelum membaca Al-Quran begitu penting? Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mencatat tujuh sebab pentingnya isti’adzah sebelum membaca Al-Quran.

Pertama, Al-Quran adalah obat bagi apa yang ada dalam dada. Ia menghilangkan godaan yang dimasukkan setan ke dalam dada. Al-Quran adalah penawar bagi apa yang diperintahkan setan dalam dada seorang hamba. Maka, jika akan membaca Al-Quran, kita diperintahkan mengusir godaan setan tersebut, mengosongkan hati darinya, lalu obat tersebut mengisi tempat yang telah kosong tersebut sehingga lebih teguh meresap.

Kedua, para malaikat dekat dengan pembaca Al-Quran. Sedangkan, setan adalah musuh malaikat. Karena itu, pembaca Al-Quran diperintahkan memohon kepada Allah agar dijauhkan dari setan, sehingga didatangi malaikat.

Ketiga, setan memperdaya pembaca Al-Quran agar ia lupa dari merenungi makna ayat yang dibacanya. Karena itu, ia diperintahkan untuk beristi’adzah kepada Allah dari setan.

Keempat, pembaca Al-Quran berdialog dengan Allah dengan membaca firman-Nya. Sedangkan pembicaraan setan adalah syair dan lagu. Karena itu, pembaca Al-Quran diperintahkan agar mengusir setan dengan isti’adzah saat berdialog dengan Allah dan ketika Allah mendengar bacaannya.

Kelima, Allah mengabarkan bahwa tidaklah Dia mengutus seorang rasul atau nabi pun kecuali ia mempunyai keinginan, setan memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan-keinginan itu. Para salaf berpendapat bahwa maknanya adalah jika ia membaca Al-Quran, maka setan menggoda sepanjang bacaannya.

Jika yang demikian setan lakukan kepada para rasul, bagaimana dengan mereka yang bukan rasul? Karena itu, setan membuat salah ketika seorang hamba membaca Al-Quran, merancukannya dan menggodanya sehingga lisannya keliru membaca atau mengusik akal dan hatinya. Karena inilah, pembaca Al-Quran diperintahkan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan.

Keenam, setan sangat bersungguh-sungguh dalam menggoda manusia saat ia ingin melakukan kebaikan, atau ketika sedang melakukannya, setan berusaha keras agar hamba tersebut tidak melanjutkan perbuatan baiknya. Setan senantiasa mengintai manusia pada setiap jalan kebaikan. Dia senantiasa mengintai, apalagi saat membaca Al-Quran. Karena itu, Allah memerintahkan kepada hamba-Nya agar memerangi musuh yang menghalangi jalannya tersebut pertama-tama sebelum membaca Al-Quran. Sebagaimana seorang musafir, jika ada yang mencegatnya di jalan, ia akan berusaha menolak pencegat itu lebih dulu, baru kemudian meneruskan perjalanannya.

Ketujuh, isti’adzah sebelum membaca Al-Quran adalah pertanda dan peringatan bahwa yang akan datang setelah itu adalah Al-Quran.

Mewaspadai godaan setan dan berlindung kepada Allah darinya merupakan hal yang penting. Jangan sampai seorang hamba melalaikan hal ini. Demikian juga masalah membaca ta’awwudz sebelum membaca Al-Quran. Hendaknya hal ini diperhatikan oleh setiap hamba Allah yang ingin membersihkan jiwanya.